Sunday, January 15, 2017

"....Terima Kasih Buat Susunya Pak..."

Kemarin Saya ada keperluan dan mengunjungi sebuah hipermarket di Jakarta Barat. Setelah Saya mengambil barang-barang yang mau Saya beli sekarang giliran bagaimana membayar belajaan Saya ini. Maksud Saya kasir mana yang antriannya tidak terlalu panjang. Seperti yang kita tahu antrian kasir di hipermarket biasanya mengular dengan jumlah belanjaan para pengunjung yang biasanya menggunung. 

Setelah tengok sana sini akhirnya Saya putuskan untuk masuk antrian di jalur kasir, let's say kasir (baris) 8, karena saya lihat pengantri didepan Saya adalah seorang bapak yang belanjaannya cukup banyak tetapi cuma satu macam belanjaan. Ya, bapak tersebut membeli susu kental kalengan dengan dua varian rasa original dan cokelat. Sebetulnya belanjaannya banyak juga, Saya tebak mungkin hampir empat puluh kaleng, namun karena variannya sedikit hitungan Saya pasti tidak akan lama proses pembayarannya (maklum pernah kuliah akuntansi jadi rada bisa ngitung lah....☺)



Ketika tiba giliran si bapak untuk membayar, maka bapak tersebut mulai memindahkan kaleng-kaleng susu tersebut ke meja kasir satu persatu. Karena jumlahnya banyak ternyata prosesnya berjalan lambat juga. Akhirnya entah kenapa, Saya putuskan untuk membantu bapak tersebut memindahkan belanjaannya ke meja kasir sambil memulai obrolan singkat.

"Wah borong susu Pak..."
"Oh iya.." (Bapak itu merespon agak acuh)
"Buat jualan lagi Pak...?" (Sambil mulai membantu menaikkan kaleng-kaleng susunya ke meja kasir)
"Oh iya... Lah biarin, ga usah dibantuin.." (Bapak itu sedikit mencegah Saya)
"Ga papa Pak... kan biar cepat selesai..", "Jualan dimana Pak..?"
"Oh di Ciledug.." (Dan kaleng-kaleng susu sudah terpindah semuanya)

Setelah kaleng susu terpindah semuanya, ternyata si kasir tidak langsung men-scan bar code susu tersebut tetapi memanggil temannya untuk mencarikan plester lakban karena si bapak ternyata bermaksud memasukkan kaleng-kaleng susunya kedalam kardus lalu diplester.

Tiba-tiba bapak tersebut bertanya pada Saya 
"Belanjaannya cuma segitu..?"
Saya jawab "iya Pak.."
"Kalo gitu kamu bayar duluan aja deh..."
Saya jawab "oh ga usah Pak, engga apa apa Saya bisa nunggu koq.."
"Jangan Saya masih lama.. ini Saya belum masukin ke kardus, terus mau diplester lagi... Sudah kamu duluan aja..."
"Oh begitu Pak, ya sudah kalau begitu..."

Akhirnya Saya malah didulukan membayar padahal barang belanjaan si bapak sudah penuh di meja kasir.
"Nih belanjaan Saya mbak, Bapak itu yang suruh Saya duluan.." Saya bilang begitu ke mbak kasir. "Oh begitu, ya sudah Pak, mari.." Akhirnya Saya justru selesai duluan.



Itu adalah kejadian nyata dan Saya memetik pelajaran berharga sekali dari peristiwa tersebut. Entah kenapa Saya merasa menyimpulkan "oh rupanya begitu ya cara kerja Tuhan dalam memberkati umatNya.."
Ya Saya sejujurnya terkaget-kaget dengan kejadian itu karena beberapa hal.

Pertama, Saya memang bermaksud membantu bapak tersebut karena nampaknya ia cukup kerepotan memindahkan kaleng-kaleng susu yang lumayan banyak itu.
Kedua, Saya sebetulnya tidak sedang terburu-buru jadi niat Saya memang mau membantu, itu saja bukan mengharap moga-moga si bapak mikir "ah, dia belanjaan nya dikit... kasih dia duluan aja deh...". Jadi engga ada pikiran atau ngarep seperti itu sama sekali.  

Namun itulah yang terjadi. Ya mungkin bagi sebagian sahabat pembaca akan berkomentar "ah.. itu khan biasa bro, lumrah terjadi hal-hal seperti itu..". Hehehe, Saya berani katakan walau hal seperti itu mungkin lumrah tapi apa pasti demikian? Belum tentu bro... Karena bisa saja si bapak tetap melanjutkan proses pembayarannya setelah mungkin berterima kasih pada Saya karena telah dibantu. 

Dan moral of the story kejadian tersebut Saya kira adalah kalau kita melakukan sesuatu dengan tak mengharapkan apa-apa sebagai imbalan, jangan kaget bila yang kita terima malah sesuatu yang melebihi harapan. Ajib ya cara kerja Tuhan... hihihi memang Tuhan maha asyik..mengutip mottonya guru batiniah Saya Ki Sujiwo Tejo.


Akhirul kata Saya mengucapkan terima kasih banyak pada si bapak pertama-tama karena telah mempersilahkan Saya memproses pembayaran lebih dulu dan yang lebih wahid dari itu karena lewat dia Saya dapat pelajaran bagus sekali dari Tuhan. 

Hanya satu yang Saya sesali adalah Saya lupa menanyakan nama dan alamat bapak tersebut, karena Saya bermaksud menyampaikan tulisan ini kepadanya agar ia tahu betapa Saya berterima kasih padanya atas kejadian hari itu. Tapi ya sudahlah Saya percaya kalau Tuhan mau tulisan ini sampai ke tangan atau pikiran si bapak, pasti akan sampai juga koq entah bagaimana caranya. 

Dan sampai saat itu tiba Saya akan selalu menyimpan salam ini di hati dan pikiran Saya, "...terima kasih buat susunya Pak..."


No comments:

Post a Comment